Sabtu, 22 September 2018


DEKADENSI MORAL YANG TERJADI SAAT INI
            Pada zaman sekarang, banyak masalah yang muncul di bangsa ini yaitu Indonesia. Di Indonesia banyak persoalan persoalan keumatan yang terjadi di Indonesia. Yang paling menonjol adalah persoalan moral yang ada. Moral di Indonesia sekarang sudah mencapai tahap memprihatinkan. Moral sudah bukan menjadi hal yang utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tapi sudah menjadi hal yang kesekian. Seolah olah moral bukanlah hal yang penting. Kita dapat mencari contoh contoh berita kurangnya moral rakyat Indonesia saat ini. Tidak lama ini saya membaca berita yang berisi ada seorang ayah yang tega memperkosa anak kandungnya sendiri. Itu adalah perbuatan yang sangat tidak bermoral bagi saya. Di mana letak hati nuraninya? Apakah ayah tersebut sudah tidak memiliki moral? Ini mengapa moral adalah hal yang sangat darurat di Indonesia. Ada salah satu dalil, yaitu QS An-Nisa ayat 36 yang berbunyi
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
            Menurut saya dalil tersebut mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa ada nya rasa kesombongan dan berbangga diri yang terlalu tinggi. Untuk berbuat kebaikan dibutuhkan pula moral yang tinggi. Jika nilai moral kita saja sudah rendah, maka kita tak akan bisa berbuat kebaikan. Solusi bagi rakyat Indonesia yang moralnya kurang adalah tetap berada di jalan Allah, mematuhi semua perintah dan menjauhi segala larangannya. Dengan itu moral kita akan terbentuk dengan baik, setelah moral terbentuk maka niscaya untuk melakukan kebaikan maka kita akan terbiasa
            Masalah keumatan yang kedua yang menurut saya sekarang sangatlah darurat di Indonesia adalah sikap toleransi antar umat beragama dan menerima perbedaan. Di Indonesia ada beberapa golongan yang menganggap agamanya adalah agama yang paling benar. Dari akar itu maka, akan timbul kekerasan. Kekerasan ini tidak jarang dan sekarang dapat memakan korban jiwa yang banyak. Mereka para teroris yang membawa bawa nama agama terutama agama islam untuk membunuh atau memusnahkan golongan yang lain adalah tindakan yang merupakan dekadensi moral. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan kepada siapapun. Islam para teroris tersebut menurut saya adalah islam yang salah. Mereka tidak memiliki jiwa toleransi yang tinggi, sedangkan kita berada pada Negara Indonesia yang memiliki keanekargaman suku bangsa dan budaya. Dalil tentang toleransi ada pada QS Al-Kafirun 1-6 yang berbunyi
Description: Image result for al kafirun ayat 1-6
Artinya : 1). Katakanlah: Hai orang-orang kafir 2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah 3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah 4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah 5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah 6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.
            Di surat Al Kafirun tersebut disebutkan bahwa umat muslim tidak akan menyembah apa yang orang kafir sembah dan sebaliknya. Itu menunjukkan bahwa mereka punya keyakinannya masing masing. Tidak ada unsur pemaksaan apalagi kekerasan. Yang terpenting adalah di ayat terakhir yang menunujukkan bahwa bagi kita umat muslim akan mempercayai islam sebagai agamanya dan yang kafir mengakui agamanya sendiri. Selain itu ada juga ayat dalam Al Quran yang menunjukkan toleransi lainnya. Yaitu pada QS Yunus 40-41, yang berbunyi
Description: Image result for yunus ayat 40-41
"Dan di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (Al-Qur'an), dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan."
(QS. Yunus 10: Ayat 40)
"Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad) maka katakanlah, Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Yunus 10: Ayat 41)
            Tafsiran isi ayat tersebut adalah penjelasan Allah SWT mengenai adanya dua golongan di dunia ini, golongan pertama yaitu golongan orang orang yang beriman kepada Allah dan golongan kedua yaitu golongan orang orang yang tidak beriman kepada Allah. Allah SWT juga telah berfirman bahwasannya Allah SWT merupakan tuhan yang maha mengetahui segala sesuatu, Allah SWT pasti mengetahui apa saja yang kita kerjakan. Di dalam Q.s Yunus ayat 41, Allah SWT menjelaskan tentang amalan yang kita kerjakan adalah untuk kita sendiri dan amalan yang mereka kerjakan adalah untuk mereka sendiri, kita bertanggung jawab atas apa yang telah kita perbuat dan mereka pula bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat. Kita tidak boleh ikut campur terhadap agama yang mereka yakini karena mereka mempunyai hak untuk menganut agama yang mereka yakini, begitu juga sebaliknya.  




Minggu, 16 September 2018

SIKAP SIKAP UNTUK MENCAPAI INSAN KAMIL


ABSTRAK
SIKAP SIKAP UNTUK MENCAPAI INSAN KAMIL

Dalam surat Al Isra ayat 70,
 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
 yang artinya “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” Menurut saya, manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT yang paling berakal pikiran dari makhluk makhluk yang lainnya. Allah juga menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling mulia asalkan mereka tetap mematuhi peraturan Allah dan menjauhi larangannya. Hal ini bisa terlaksana jika manusia memiliki iman ihsan dan islam yang baik dalam dirinya. Jika ia sudah mempunyai iman ihsan dan islam yang baik dan benar, niscaya ia adalah makhluk paling mulia. Tapi jika manusia masih terbelunggu dalam bisikan setan maka, itu bisa jadi factor penghambat manusia untuk menjadi makhluk yang mulia.
            Dalam surat Al Ahzab ayat 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
, yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Menurut saya maksud dari ayat itu adalah kita harus mencontoh Rasulullah SAW yang di dalam dirinya terdapat suri tauladan yang baik. Kita sebagai manusia harus meniru beliau, agar kita di jalan yang benar. Kita harus tetap menjauh dari larangan Allah seperti yang Nabi Muhammad lakukan.
            Sikap wara’ adalah meninggalkan setiap perkara syubhat (yang masih samar)
, zuhud adalah sikap anti berlebihan terhadap sesuatu atau sederhana. Sikap wara dapat menuntun kita menuju insan kamil, karena sikap wara’ adalah sikap yang dimiliki rasulullah sebagai suri tauladan yang baik. Jika kita sudah memiliki sifat wara’ maka kita akah terhindar dari sifat konsumtif atau berlebihan. Maka dari itu untuk menuju insan kamil akan terasa lebih mudah. tawakkal adalah berserah diri kepada Allah, dan ikhlas adalah berlapang dada terhadap segala sesuatu. Keempat hal itu harus ditanamkan diri dalam berbangsa dan bernegara. Tanpa semua itu maka kehidupan berbangsa-bernegara akan tidak sempurna. Terutama untuk para pejabat Negara, keempat hal itu harus ditanamkan agar para rakyat dapat menirukan apa yang dilakukan pemimpinnya.